Sunday, August 7

Ancaman Bapak



Waktu itu bapak dan mak saya pulang dari kabupaten S. Mereka pulang saat itu karena hari lebaran idul fitri 2016. Waktu sedang kumpul bersama, bapak bilang ke saya “Kayaknya bapak hanya mampu kerja sampai 2 tahun lagi”. Saya terhenyak. Bapak secara tidak langsung mengancam saya. Apa maksud ancaman bapak ini? Dia seakan mengisyaratkan pada saya sebagai sulung di keluarga ini. Saya harus bekerja untuk menghidupi keluarga saya. Saya akan menjadi tulang punggung keluarga. Tidak bisa bergantung lagi pada Bapak saya.
Sebenarnya saya juga maklum dengan kondisi bapak saya. Bapak saya menderita diabetes. Dia tidak mampu lagi bekerja. Dia memaksakan diri bekerja, karena untuk keperluan saya dan adik-adik saya yang masih sekolah. Mulai dari sekarang saya sudah harus menyiapkan mental saya. Kuliah sambil bekerja menjadi tujuan saya sekarang.
Ancaman bapak waktu itu sangat membekas di hati saya. Sekaligus menegaskan agar saya tak usah bercita-cita tinggi. Sebab, tiada yang bisa menyokong saya. Apalagi cita-cita saya adalah kuliah di kota lain. Sangat butuh uang yang banyak.
Ahh, saya tidak tau lagi harus bagaimana. Saya hanya perlu menjalani takdir ini dengan ikhlas dan hanya harus banyak-banyak bersyukur. Sejak awal keluarga saya memang memiliki kondisi ekonomi yang sulit. Saya hanya berharap akan ada keajaiban ketika saya dewasa nanti, kejaiaban yang saya akan dipersunting oleh lelaki sholeh dan baik hati yang mapan. Seperti mas De. Ar. si perawat itu misalnya.

Picture from sinarharapan.co


No comments:

Post a Comment