Wednesday, August 24

Black Blood, Mud Blood.

Saya selalu berpikir kalau saya adalah seseorang yang tidak berdarah bersih. Maksud saya. Separuh keluarga saya adalah kafirun. Saya jujur benci dengan diri saya sendiri yang selalu menuntut kesempurnaan dan tiada pandai bersyukur. Saya selalu berharap yang bodoh, saya berharap seandainya saya merupakan putri seorang ustad yang sholeh. Tapi takdir kita bukan kita yang menentukan. Kita tidak bisa memilih dengan rahim siapa kita lahir.

Namun, saya hanya merasa sedih. Saya sangat berbeda dengan teman teman sebaya saya. Mereka hidup dengan normal dan bahagia. Lain sekali dengan saya. Tidak bisa beribadah dengan normal. Karena selalu meragu. Terutama tentang apa yang terjadi dengan piring dan sendok yang saya pakai, tentang lingkungan saya.

Saya ingin segera mengubah hidup saya. Saya ingin cepat cepat menyelesaikan kuliah dan segera bekerja dan segera menikah dan hidup bahagia tanpa harus ditakuti dengan bayang bayang kafirun. Tanpa harus tinggal di istana penuh derita ini... Saya jujur saja merasa tersiksa disini. YaAllah berikan hambamu ini kesabaran dan banyak banyak kekuatan menghadapi semua ini. Badai tidak selamanya, karena ia pasti berlalu.

August 24, 2016. 9.37 pm.

No comments:

Post a Comment