Thursday, September 1

Geng di kelas dan di kampus. Sebuah catatan sejarah saya.

Siang readers. Mau curhat aja sebagai mahasiswi baru alias maba. Sejujurnya saya takut sejarah terulang kembali. Sejarah masa SMA saya lalui dengan buruk. Buruk maksudnya yaitu saya hanya punya sedikit teman. Dan banyak teman di kelas yang tidak menyukai saya. Yah, saya sih whatever, selama saya nggak ngeganggu mereka dan mereka juga nggak ngeganggu saya. Nggak masalah bagi saya.

Sejujurnya memang saya ini orangnya pendiam ya. Saya nggak terlalu pandai berbasa basi dan nggak terlalu suka bergurau, ngobrol ngobrol ngalur ngidul. Yang, kebanyakan mereka itu gosip. Gosip tentang cowok, tentang temennya yang lain. Alhasil teman saya sedikit. Teman saya kebanyakan santai dalam hidupnya dan merasa nggak perlu belajar sekeras saya.

Ya memang, saya sangat keras jika sedang belajar. Saya selalu duduk di bangku paling depan. Memperhatikan apa yang guru saya jelaskan dengan penuh perhatian. Sementara mereka, ngobrol dengan anggota gengnya. Atau makan makan di kantin. Mereka orang kaya, punya segalanya, wajar saja, tanpa perlu bekerja keras, uang yang akan menghampiri mereka. Berbeda sekali dengan saya. Saya sangat memikirkan masa depan saya. Apa yang akan terjadi dengan saya kedepannya. Karena saya tau, orangtua saya bukan pejabat, bukan orang kaya.

Saya juga nggak suka keluar malam malam atau sore hanya untuk makan makan jalan jalan atau nongkrong di kafe/rumah makan.

Yang saya takutkan yaitu jika sampai saya terasing. Saya takut mereka, teman teman maba di prodi saya membentuk geng geng di kelas. Seperti apa yang terjadi saat saya SMA. Dan alhasil saya sendirian, saya tidak tergabung dalam geng apapun.

Saya ingat. Waktu itu. Saya hanya duduk sendiri di bangku saya. Teman sebangku saya ngobrol dengan anggota gengnya. Semua teman di kelas terpecah dan masing masing mereka ngumpul dengan anggoga gengnya. Saya sendirian. Bingung dengan apa yang mau saya lakukan. Saya sebenarnya ingin juga gabung, ngobrol ngobrol nggak jelas kayak mereka, biar keliatan saya nggak sendirian. Biar keliatan kalau saya juga punya teman.

Tapi, tentu saja. Harga diri saya tidak mengijinkan itu. Tidak ada gunanya saya bergabung dengan mereka. Yah sudahlah, walau kadang saya merasa tak dianggap. Saya memilih membaca novel atau buku atau memainkan hape saya.

Sejauh pengamatan saya. Jujur saya kecewa sekali. Mereka (teman teman saya di prodi) suka sekali nongkrong di kafe/restoran. Paling mereka hanya gosip, makan tentunya dan selfie ria. Bukannya saya iri. Saya memang gak suka kumpul kumpul seperti itu. Wasting time. Tapi biarlah, itu juga kan hak mereka.

Saya hanya berharap. Saat kuliah ini, saya bisa punya 4 sampai 5 teman, yang benar benar baik dan sejati. Berteman dengan tulus, bersama-sama belajar dengan baik dan kemudian lulus kuliah tepat waktu. Saya nggak perlu punya banyak teman, jika mereka hanya menjerumuskan dan hanya bersenang-senang. Ya, saya akui memang saya orang yang sangat serius. Saya serius dengan apa yang saya lakukan. Saya serius belajar dan kuliah. Saya serius dengan hidup saya. Namun bukan berarti saya nggak bisa bersenang-senang ya. Namun cara saya berbeda.

Bersenang-senang dalam kamus hidup saya tidak dengan nongkrong-nongkrong seperti itu. Saya lebih suka jika jalan jalan ke suatu tempat yang berfaedah, menambah ilmu. Menonton film yang inspiratif.

Mereka melakukannya. Mereka membentuk geng. Dan, saya tidak termasuk ke dalam geng "ANAK EKSIS, ANAK GAUL". Biarlah, kita lihat saja kedepannya. Saya juga yakin, di prodi ini, di antara kami ber-30 orang ini, pasti ada juga orang orang yg setipe dengan saya. Orang yang serius dengan kuliahnya. Sehingga tidak perlu bergabung dengan geng ini hanya untuk kata eksis dan gaul.

1st September 2016.

No comments:

Post a Comment