Monday, September 5

Abang Senior Misterius

Daripada saya mengeluh terjebak hujan. Lebih baik saya menulis saja. Hihi. Kali ini saya menulis kan kisah nyata saya.

Saya baru beberapa bulan berada di lingkungan baru ini. Lingkungan baru, kondisi baru, teman baru, dan kehidupan yang baru.

Lingkungan yang saya maksud yakni dunia perkuliahan. Saya pertama kali melihatnya saat ospek fakultas. Dia orangnya tinggi, matanya sipit, tidak tersenyum, dan tulang pipinya tinggi. Dia selalu mengenakan baju hitam dan rambutnya ikal terkiwil kiwil. Hehe.

Saat pertama kali melihatnya ya, saya biasa aja. Dia senior dan saya junior. Dia nggak pernah ngomong dengan saya. Ya, siapa juga saya? Saya cuma maba.

Hari kedua ospek saya bertemu lagi. Dia sebagai penunjuk jalan bagi kami yang ke kampusnya berjalan kaki.

Setelah ospek saya tidak lagi bertemu dengannya. Namun hari Sabtu kemarin, saya iseng ke kampus pengen jalan jalan dan sekalian beli kartu Daftar Hadir Kuliah (DHK). Kembali saya bertemu dengannya. Seperti biasa. Kami bertatapan. Saya melihatnya dan dia melihat saya. Saya sih biasa aja, cuma kebetulan.

Namun apalagi tadi siang ini. Saya habis ke perpus fakultas. Alhamdulillah saya bisa meminjam buku penunjang perkuliahan secara gratis. Alhamdulillah hemat dikit lah ya, lagi krisis ekonomi soalnya ini. Masa iya saya beli lagi buku seharga ratusan ribu itu. Kalo bisa pinjem kenapa tidak. Hehe.

Eh saya jadi lupa. Seperti yang Anda duga. Saya kembali ketemu dengannya. Dan saya bertatapan (lagi) dengannya. Cuma kebetulan. Namanya juga satu kampus. Kan dunia ini sempit ya. Hehe.

Awas aja kalo besok saya ketemu dia lagi. Saya nggak tau harus bilang apa dengan beberapa pertemuan kami yang tidak sengaja ini...

Namun saya juga ingin cerita. Kondisi saya ketika bertemu dengannya cukup menyedihkan. Saya selalu bertemu dengannya dalam keadaan sendirian, tanpa teman. Sedangkan dia, jika bertemu dengan saya, ada aja temannya.

Tipikal orang Indonesia banget ya, selalu jalan bersama teman. Kalo saya nggak bisa seperti itu. Teman saya dan kemauan saya berbeda. Teman saya banyak sekali ya. Tapi yah, mereka kan punya kesibukan masing-masing. Jika saya bisa melakukan segalanya sendirian. So? No problem in it.

Tapi saya agak malu tadi berjalan sendirian. Soalnya saya maba sendiri di situ. Kebanyakan kakak senior. Huhu. Padahal tadi kami perginya berlima. Eh teman teman saya curang. Mereka naik motor ke perpus nya. Yah, saya yang jalan kaki ditinggalin alias ketinggalan. Hmm. Sakitnya tuh disini.

Monday, 5th September 2016.



No comments:

Post a Comment