Wednesday, September 7

Random.

Night readers. Bicara kekurangan kali ini. Saya manusia dengan sejuta kekurangan. Kekurangan saya yang utama dan paling terlihat ialah, saya pemalu, dan kurang percaya diri. Saya sangat minder dan rendah diri. Bisa juga dibilang introvert, tapi tidak juga sih.

Bahkan saya malu menunjukkan karya saya kepada siapapun. Blog ini pun saya samarkan. Saya ingin jadi seperti Ilana Tan. Saya tidak ingin terkenal dan dikenal orang banyak.

Sejak kecil orang tua saya. Yang saya maksud adalah bapak saya. Suka menyakiti perasaan saya sebagai anak anak. Saya masih sedikit ingat masa kecil dan remaja saya. Sangat menyedihkan. Saya sering dibilang bodoh, tolol, nggak tau apa apa, nggak tau dunia, nggak berguna sama Bapak saya. Kata kata makian itu bukannya menguatkan mental saya. Namun justru melukai saya secara psikis. Itu membentuk kepribadian saya yang sekarang.

Jika Anda bertanya pada teman SMP saya. Bagaimana saya dulu? Anda akan sangat terkejut. Betapa banyak berubahnya saya. Saya dulu sangat parah. Ketika berjalan selalu menunduk. Jarang ngomong. Teman sedikit. Tidak berani ngomong di hadapan banyak orang.

Saya ingat sekali saat saya SMP. Bahkan saya masih ingat dengan gurunya. Dia menyuruh kami maju satu persatu untuk menceritakan kisah cerita rakyat dari daerah provinsi ini. Saya berkeringat. Khawatir sekali. Saya malu sekali dengan diri saya. Saya nggak suka dilihat banyak orang. Malu saya. Entah kenapa.

Sedangkan teman saya, luar biasa, mereka semua atraktif. Menghibur. Keren sekali. Sedangkan saya, mungkin hanya tembok yang bisa mendengar suara saya. Nilai saya rendah sekali. Guru itu sangat saya tidak sukai. Dia galak, jarang tersenyum, dan kejam.

Waktu itu saya telat pelajarannya. Memang sih salah saya. Saya telat karena saya naik oplet dan jalan kaki sekitar 5 kilometer ya. Setiap hari begitu.
Waktu itu dia menghukum saya mengepel lantai. Saya malu sekali. Saya mengepel sambil menangis.

Kemudian ibu guru mata pelajaran lain melihat saya dan menegur ibu guru yang menghukum saya. Saya dibawa ke ruang BK. Saya menceritakan semua kesusahan hidup saya. Dia sama sekali tidak bersimpati. Saya ingat, saya diberikan Aqua olehnya.

Masa SMP saya sangat sangat suram dan menyedihkan. Saya bekerja dari sore hingga dini hari. Membantu bapak saya jualan makanan kaki lima.

Saya ingat sekali. Kisah saya itu abadi dalam ingatan saya. Saya selalu menangis jika ingat kisah menyedihkan itu. Dari sore hingga dini hari baru pulang, kemudian saya tertidur hingga jam setengah 6 pagi. Jangan tanyakan apa saya sholat atau tidak ya. Saya jauh sekali dari agama. Orangtua saya tidak peduli akan hal itu.

Kemudian saya sekolah. Pulangnya jam 1 siang. Saya lantas membantu bapak saya untuk jualan nanti sore. Begitu terus. Dimana ibu saya? Ibu saya ... Saya tidak sanggup menceritakannya. Ini aib yang mencoreng wajah keluarga saya. Dosa yang selamanya tak terampuni. Walau memohon maaf seperti apapun.

Saya hidup dengan penuh kemuraman dan kesedihan. Wali kelas saya jika bagi rapot selalu bertanya kepada Bapak saya, kenapa saya selalu murung dan pendiam di sekolah.

Penderitaan dalam hidup saya bertambah kian hari. Saya tidak bisa bahagia seperti teman sebaya saya yang lainnnya. Saya hidup dengan tidak normal. Saya selalu iri pada teman saya yang berjilbab. Dia sang juara kelas. Cantik, pintar, kaya dan solehah. Saya mengidolakannya. Alhamdulillah bisa bertemu dengannya lagi setelah sekian lama. Dia sama sekali tak berubah. Tetap mengagumkan seperti biasa.

Setiap pelajaran agama, saya masih ingat nama guru saya itu. Saya ingat semuanya. Dia mewajibkan kami memakai jilbab. Saya bahagia sekali setiap pelajaran agama. Sudah pernah belum saya ceritakan tentang keluarga saya yang bodoh? Yang melarang jilbab? Itulah... Saya setiap dalam perjalanan pulang setelah pelajaran agama selalu mengenakan jilbab. Jilbab putih langsung. Saya bahagia ketika mengenakannya.

Eh kok jadi mellow. Titik balik kehidupan saya ya, sekarang ini.

Sejak ditinggal bapak dan ibu saya, hidup saya lebih bebas. Saya tidak dikekang oleh bapak saya yang diktator dan otoriter. Bapak saya melarang saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler apapun. Ini membuat saya stress sekali, karena saya dulu saat SMA ingin sekali ikut Paskibra. Tinggal selangkah lagi jadi Paskibra sekolah. Betapa hancurnya saya, saya terpaksa mengundurkan diri karena Bapak tidak setuju.

Saya letih memohon-mohon. Kelak kalau saya punya anak. Saya tidak akan seperti bapak saya yang jahat itu. Saya pernah gila ya readers. Betapa mengerikannya. Saya sakit kurang lebih 2 minggu. Alhamdulillah Allah masih sayang sama saya, Dia menyembuhkan saya.

Saya hidup dalam keadaan menyakitkan. Saya hidup kekurangan harta. Sekarang Alhamdulillah tidak kekurangan. Namun tidak tahu, kapan roda akan berputar ke bawah. Saya sudah sering berada di bawah. Sehingga saya tidak takut lagi. Karena saya sudah pernah mengalami semua hal yang saya takuti.

Dibalik segala penderitaan ada hikmahnya. Jangan pernah menyerah dan jangan pernah menyangka bahwa Anda orang paling menderita di dunia ini. Semua orang punya penderitaannya masing-masing. Dan kita sebagai umatNya harus berhusnudzan pada Allah. Dia menguji hambanya sesuai kemampuan dan kita harus banyak banyak bersyukur.

Rabu, 7 September 2016.

No comments:

Post a Comment