Saturday, December 31

366/366 Note.

2016 akan berakhir. Di usia saya yang menuju 19 ini, banyak sekali hal menakjubkan yang terjadi, dan buku-buku menemani saya melalui semua itu.

Sepanjang 2016 ini saya juga banyak membaca buku buku bagus. Ada beberapa yang sempat saya review dan saya posting di blog ini. Namun kebanyakan sih hanya bisa terbaca, “tidak sempat” mereview. Untuk tahun 2016 ini saya tidak tahu berapa pastinya jumlah buku yang saya baca. Yang pasti mungkin ada di kisaran lima puluhan. Kebanyakan alias 70%nya adalah bergenre fiksi. Untuk 30%nya saya juga membaca majalah, koran, buku buku travelnya Claudia Kaunang dan Ariane, buku motivasi Merry Riana dan Oki Setiana Dewi.

Karena saya mengambil konsentrasi bahasa Inggris di kampus, saya juga selalu berusaha untuk membaca buku atau novel yang berbahasa Inggris. Saya mencoba membaca The Fault in Our Star, The Hunger Games dan Twillight. Namun sayang sekali, semuanya gagal, alasannya sumber untuk buku buku asing itu terbatas dan juga kosakata bahasa Inggris saya masih belum bisa “ngikut” serta saya selalu bermasalah dengan waktu.

Sebenarnya saya ingin sekali membaca novel-novel Tolkien, The Hobbit dan The Lord of The Ring. Tapi ya begitulah, nggak ada di perpustakaan, dan saya nggak punya banyak uang untuk beli misalnya seperti di Amaz*n gitu.

Cerita mengenai buku, seingat saya buku yang paling tebal yang saya baca yakni novel Rindu oleh Tere Liye. Saya membacanya berminggu-minggu, sedikit demi sedikit, terkadang dua jam perhari. Kata-kata di novel itu sangat halus, sangat indah, sangat bagus intinya. Novel itu tepatnya 400++ lebih halaman. Tapi novelnya biasa aja, nggak ada romance-nya. Ada sih, tapi nggak terlalu kentara.
Kalau buku yang paling tipis ada juga, yakni buku buku terjemahan karya-karyanya Agatha Cristie. Saya hanya mampu baca mungkin belasan halaman dan akhirnya berhenti. Saya berhenti karena bosan dan itu tidak menyentuh hati saya.
Selama ini yang jadi patokan buku itu bagus atau tidak dan saya melanjutkan membaca atau tidak adalah apabila buku itu menyentuh hati saya atau tidak.

Sejauh ini buku-buku yang saya baca penulisnya rata-rata orang Indonesia. Ada tiga penulis asing dari 2 bangsa lain yaitu Jung Eun Gwol dari Korea dan Suri Ryana dan Hanina Abdullah dari Malaysia. Untuk yang Korea sudah pasti terjemahan, saya nggak bisa bahasa Korea. Luar biasa sekali untuk karya orang Korea itu, novelnya sangat bagus juga, dan sangat detail. Saya membaca tuntas 2 jilid untuk masing-masing judul, novel terjemahan korea. Judul pertama yakni The Moon that Embraces the Sun dan Sunkyunkwan Scandal. Keduanya sama-sama ditulis oleh penulis favorit saya, Jung Eun Gwol. Kedua-duanya sama sama mengambil latar waktu saat Korea berada di jaman kerajaan. Kalau empat novel itu ditotal atau digabungkan mungkin ada 1000 halaman lebih. Wooow. Saya bahkan membacanya berjam-jam dan lupa segalanya.

Kalau yang untuk penulis Malaysia, saya emang sedikit sakit kepala sih, tapi karya puan Suri Ryana itu sangat-sangat bagus sekali. Saya pencinta berat novel romance syar’i ala ala Malaysia. Di tahun ini saya tuntas membaca novel Istri Separuh Masa, MAID, Playboy itu Suami Aku, Kimchi Untuk Awak, dan Projek Memikat Suami. Namun kelima-limanya saya hanya bisa baca online dan tidak full. Saya tidak punya banyak uang untuk memesan langsung dari negeri Jiran. Apalagi per-item itu harganya tidak murah. Tapi saya tau akhir ceritanya dari drama. Karena semua novel tersebut diatas, diekranisasikan.

Mengenai buku yang menyentuh secara personal. Banyak sekali buku-buku yang menyentuh saya. Yang paling menyentuh pertama yaitu Projek Memikat Suami karya Hanina Abdullah, penulis Malaysia. Saya sangat suka karakter Nawwal Husna dan saya tergila-gila pada karakter Zahrain Alimin. Saya selalu ingin jadi Una. Dan ini juga alasan blog ini saya namakan Nawwal Husna World. Sekalian jadi nama pena saya. Saya ingin sekali menjadi Una karena dia cerdas, kuliah di UK, cantik, sholehah dan bersuamikan seorang lelaki yang sholeh pula. Benar-benar impian saya. Apalagi saya juga melihat versi filmnya.
Rata-rata memang harus saya akui, saya kebanyakan membaca sesuatu yang di-filmkan. Alasannya saya juga tidak tahu kenapa sih. Suka aja.

Ada juga novel yang membuat saya sedih dan menangis. Asma Nadia paling andal membuat pembacanya nangis dan baper yaitu Assalamualaikum Beijing. Tapi ada satu buku yang benar-benar membuat emosi saya menggelegak yaitu Surga yang tak dirindukan. Saya benar-benar marah sekali pada Pras. Saya nggak bisa toleransi apapun alasannya dia menikahi Meirose, kasihan banget si tokoh Arini. Saat nonton filmnya, saya nangis. Saat baca novelnya pun saya nangis lagi. Novel itu sangat hebat dalam mengaduk-ngaduk emosi pembacanya. Kalau novel-novel lain sih ada cuma nggak sedahsyat novel itu. Saya juga ingat karyanya Ilana Tan, tapi hanya yang Sunshine Becomes You and In a Blue Moon. Saya juga sedih sekali saat tokoh utamanya meninggal dan tidak terselamatkan. Saya berusaha membaca 4 Seasonnya Ilana, tapi saya berhenti, saya bosan, dan itu tidak menyentuh hati saya.

Saya rasa cukup sekian perjalanan membaca saya. Di tahun 2017 saya ingin bisa membaca lebih banyak buku lagi, lebih banyak membaca karya-karya yang bagus lagi. 

Sabtu, 31 Desember 2016. Bumi Lawang Kuari.

No comments:

Post a Comment