Tuesday, January 24

Seminggu nenek tiada.

Hmm. Lagi lagi saya bahas dia. Kini terungkaplah siapa yang sayang siapa. Terkadang memang garis antara benci dan cinta itu sangat tipis sekali. Tidak dipungkiri, begitu begitu juga, saya sangat sayang sekali pada nenek saya. Saya sangat dekat dengannya. Satu-satunya orang yang selalu membela saya. Dia tidak pernah memarahi saya meski terkadang cuma ngomel dan ngamuk. Itu juga kalo dia lagi sakit.

Sekarang terasa sepi dan tidak ada artinya lagi imlek. Meski saya dan keluarga saya tidak merayakannya. Namun keluarga besar ayah selalu merayakannya. Dengan tiadanya nenek, sudah tamat, sudah tak ada artinya, apalagi bagi saya. Kalau boleh dibilang, saya dan adik saya adalah yang paling dekat dengan nenek. Kami bertiga hidup bersama di rumah besar ini. Wajar kalo saya tidak takut dengan mitos mitos menyeramkan yang beredar, ada yang bilang bangkit lah, apalah. Karena saya yakin,  Allah yang maha besar selalu melindungi hambanya dan nenek saya tak mungkin menyakiti atau melukai saya.

Apo, aku merindukanmu. Maafkan aku jika ku berbuat salah padamu. Maafkan aku yang terkadang emosi dengan segala permintaanmu atau keluh kesahmu. Sesungguhnya aku tak bermaksud begitu.

Apo. Istirahatlah dengan tenang dan semoga kau bahagia. Terimakasih untuk waktu yang kita habiskan bersama.

Keluarga saya merupakan keluarga besar. Nenek punya 12 anak dan 34 cucu dan 2 cicit. Keluarga yang teramat besar. Namun hingga akhir hayatnya, hanya saya dan adik saya yang beruntung bisa merawat dan menemaninya. Meski status saya, si cucu yang menumpang. Ayah dan ibu saya jauh. Itu juga karena diusir olehnya. Namun saya yakin, dia mengusir ayah dan ibu saya, agar ayah bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik, dan benar saja.

Terakhir kali. Waktu itu, Selasa, 17 Januari 2017. Pagi itu. Nenek saya sudah sakit-sakitan sekali dengan infus di tangan. Ngomongnya hanya bisa pelan. Saya waktu itu uas terakhir. Saya membelikan bubur untuknya sarapan. Dan ternyata itu sarapan terakhirnya. Saya hanya menyuapkan 5 sendok, itupun sedikit, karena dia merasa tak nafsu lagi. Trus saya bilang, "Po, kiki kuliah dulu ya. Cepat sembuh ye po." Saya juga meneriaki adik saya untuk menyuapkan apo saya atau menanyakan/menawarinya makan.

Siang itu. Selesai uas. Terik Matahari sangat menyengat. Saya... Ingin makan siang setelah mengantar teman saya ke rumah kontrakkan kakaknya. Namun tidak jadi, karena teman saya dan gengnya lewat, saya jadi parno sendiri kalo makan sendirian. Hmm. Yaudah. Saya memutuskan pulang aja ke rumah.

Pas pulang. Terkejut sekali, ada saudara sepupu saya. Dan rumah cuma mereka berdua. Dan nenek sayang berteriak kesakitan, posisinya juga bergerak kesana kemari. Dia ingin saya menjemput tante saya untuk membenarkan posisi berbaringnya dengan mengangkat/menggeser. Luar biasa, saya dan sepupu saya bahkan saya juga memanggil tetangga saya, kami bertiga tidak mampu. Akhirnya saya menelpon tante saya itu dan mengatakan saya akan menjemputnya, meskipun dia itu lagi sibuk buat kue untuk jualannya.

Saya akhirnya kesana dan menjemputnya. Tante saya mengurut badannya dengan bawang setelah membenarkan posisinya. Tapi dia belum selesai buat kue. Jadi saya mengantarkannya kembali ke rumah karena om saya datang. Dia datang dan kemudian perawat datang, dengan menawarkan untuk dipasang selang makan dan lain-lainnya. Om saya yang kedua ini pulang. Dan om saya yang pertama datang. Saya yang kelelahan naik ke atas untuk istirahat sejenak, hingga akhirnya sepupu saya memanggil saya. "Kiki... Kiki... Liat apo ta." Saya capek banget waktu itu. Dan saya turun.

Bukan main saya shock. Nenek saya sesak nafas. Segera saya telfon perawat untuk datang melihat dan dia menyarankan saya agar nenek dibawa ke RS. Kemudian yang tidak disangka pun terjadi. Mata om saya sembab. Om saya memanggil-manggilnya. Saya juga memanggil-manggilnya "Po... APO..." Dia tak merespon. Tangannya juga sudah dingin sekali. Dia sudah meninggal. Saya terdiam dan sedih. Saya masih aneh. Baru kali ini, orang yang benar-benar dekat dengan saya, benar-benar meninggalkan saya selamanya.

Saya menelpon ayah saya dan saya terisak. Ayah saya juga deg. Apa? Saya juga sms tante saya yang di Taiwan. Dan om saya menelpon saudara saudara yang lain. Semuanya pada datang. Nggak ada yang benar-benar menangis, kecuali tante saya yang ketiga. Ayah saya segera kembali ke kota, tante yang ketiga juga, dan yang di Taiwan juga. Semuanya pulang kecuali si anak durhaka yang merampok semua uang nenek saya selama bertahun-tahun.

Akhirnya, nenek saya diawetkan dan dimakamkan sesuai adat Tionghoa. Berhari-hari nenek di rumah duka. Masuk ke peti. Kemudian tutup peti. Aneh sekali, saya diharuskan memakai baju putih dan terbalik. Banyak sekali aturan yang aneh dan tidak masuk akal.

Saat pemakaman, luar biasa, saya yang tidak tahu apa apa, banyak melakukan kesalahan dan bapak saya membentak saya dan ibu saya habis-habisan. Mata saya merah karena saya sangat marah. Bentakan dan makian itu sangat menyakitkan dan berlebihan. Saya dendam sekali dan saya masih ingat apa yang terjadi di pemakaman nenek saya.

Nenekku. Apoku. I really miss you.

Selasa, 24 Januari 2017.

No comments:

Post a Comment