Tuesday, January 30

Puisi



Air mata menjadi saksi
Malam ini aku menyerah
Kau melampaui batas
Maafkan aku, aku kalah
Lagi

Rasanya begitu perih
Sampai aku menjadi seperti ini
Ku tak mau menyalahkan siapapun Katakanlah takdir ilahi
Kalau memang lidahmu
Tajam
Lebih dari seribu paku menghunjam jantungku

Cukup dengan hinaanmu, perkataanmu, intonasimu
Maksudmu yang baik dan melindungi
Akal dan logikaku tak bisa menerimanya
Kau membungkusnya dengan pisau tajam
Aku
Berdarah, terluka memegangnya

Kau selalu seperti itu
Aku tak bisa terima lagi
Aku tak bisa mengerti lagi

Karena kau
Aku gila
Aku kehilangan kepercayaan diriku sendiri
Aku selalu merasa buruk
Aku selalu bodoh
Aku selalu salah
Prestasiku sama sekali tak berarti

Mungkin memang jawabannya
Aku harus mati segera di depan matamu sendiri
Biar kau puas
Atau aku harus pergi selamanya sejauh2nya
Aku takkan pulang
Semua perkataan dan hinaanmu kan kubayar mesti ku tau takkan cukup

Aku tak mampu lagi
Aku tak mampu memikulnya lagi
Karena kau tau kau orang yang sangat berarti
Jangan pernah berharap aku pulang!
Aku sudah hancur sehancurnya

No comments:

Post a Comment