Tuesday, May 22

Menjadi dewasa

Refleksi

Hari ini terasa sedikit overwhelming buat aku. Entah akunya yang lagi sensitif atau apalah. Jadi tadi aku dimarahin dosen. Memang sih salah aku, showed up tiba tiba. Tapi kan maksudku bukan gitu. Aku merasa lebih sopan untuk ketemu langsung dripada sms. Hmmz. Tapi jadi merenung disini. Bisa nggak sih punya mulut tu dipake untuk berkata baik atau diam. Berkata jahat itu kalau udah kepepet banget, menyampaikan fakta atau terzalimi. Tadi aku sakit hati banget dikatain bego. Bayangin, mana di depan 4 dosen lain lagi. Sedih banget. Dimarahin di depan umum. Padahal tau kan, aku ini sangat segan dan menghormati mereka banget. Udah kuanggep ortu sendiri. Agak kecewa sekolah tinggi-tinggi, tapi masih aja suka nyakitin orang lain. Kadang jadi berpikir, manusia itu kejam ya. Dan aku harus survive diantara orang-orang kayak begini. Menjadi dewasa yang sebenarnya, orang pasti akan melukai kita, baik dengan omongan atau yang lain, disengaja atau tidak. 

Pas buka puasa tadi juga kejadian lagi. Aku sakit hati lagi. Betapa mulut itu ya emang pedang yg tajam, betapa lidah memang tiada bertulang. Kali ini bapak aku sendiri. Yah, word hurts, people hurt you. Aku sengaja aku tulis biar aku inget dan refleksi dan memperbaiki diri. Jadi, bapak tadi marahin aku yg terlalu sibuk ngerjakan tugas, dan suka setres dan cengeng gara gara tugas banyak. Dia bilang, jadi orang jangan gitu, jangan ngeluh atau lebih baik berhenti aja. Aku sedih dibilang gitu. Emang mungkin ada baiknya kurcurhat disini, atau di diary private ku. Biar plong, I need to get them out of my chest. 

Tapi, tadi bapak juga ada bilang, kita harus minta sama Tuhan, sholat dan berdoa apa yang kita cita citakan. Jadi, di momen isya, dan ramadhan ke sekian ini. Aku ingin minta sama Allah, aku pengen banget libur panjang semester 4 (juni-juli-agustus) ini, aku pengen banget exchange/volunteer sebulan gitu entah di Singapore atau Europe? Aamiin. YaAllah, Almighty, it is even nothing for you, very easy thing, you're the Richest, this earth and its content are yours. Yang aku ke China kemaren aja aku rasanya masih gak bisa percaya. Happen that fast? Itu kayaknya beneran keajaiban, karena aku tau sendiri yang aku ini beneran ngga ada apa2nya, pinter enggak, ip biasa aja, kaya juga enggak. Hmm. Aku sampe sekarang selalu bersyukur kalo ingat moment itu. Moment aku pertama kalinya ke luar negeri setelah bikin passport 359 hari yang lalu. Sebelumnya memang ada temenku yang menang workshop apalah itu, dan aku sebenarnya nggak iri, tapi somewhat menurut aku dia itu sombong. Hmm. Yasudahlah. Sekarang pun aku jadi lebih percaya diri. Alhamdulillah. Satu yang sebenarnya kita perlu ingat sih, saat orang lain sukses di usia kita gini, yah fine aja sih, bukan berarti kita yang belum sukses itu pathetic loser. Everyone walks in their own track.




No comments:

Post a Comment