Monday, August 5

Ibu Kota Baru Indonesia adalah Kota yang Berkelanjutan

Rencana pemerintah untuk memindahkan ibu kota baru mendatangkan cahaya harapan kemajuan bangsa. Wacana yang sudah bergulir lama akhirnya menuju konkret dan nyata. Harapan penulis, semoga dapat mewakili generasi muda lainnya, yakni, ibu kota baru Indonesia semoga menjadi kota yang berkelanjutan.
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mendefinisikan kota yang berkelanjutan sebagai kota yang menciptakan kesempatan karir dan bisnis, perumahan yang aman dan terjangkau, dan pembangunan masyarakat dan ekonomi yang tangguh. Kota yang berkelanjutan juga tidak dapat dipisahkan dari investasi pada transportasi publik, ruang terbuka hijau, dan peningkatan tata kota dan manajemen (UNDP).
Untuk memindahkan ibu kota dan memiliki ibu kota baru, sangat penting untuk diketahui mengenai urgensinya, kenapa harus pindah? Ibu kota Indonesia yang sekarang, Jakarta, punya segudang permasalahan yang bukannya membuat Indonesia tambah maju, justru membuat Indonesia tetap stagnant di tempat dan menjadi persoalan lama yang belum juga ditemukan solusinya. Sudah saatnya, bangsa ini bangkit dan atur strategi baru dalam memajukan Indonesia yakni dengan mencari ibu kota baru. Ibu kota baru adalah harapan baru arah pembangunan bangsa. Sebelum kita bergerak lebih jauh, ada baiknya kita lihat data dan fakta Jakarta terkini sebagai pijakan kenapa perlu adanya ibu kota baru.
Kemacetan Jakarta menempati peringkat ke-7 sedunia, dengan angka tingkat kemacetan sebesar 53% (The TomTom Traffic Index, 2018). Perkiraan kerugian tahunan akibat kemacetan ini juga punya angka yang fantastis yakni menembus Rp. 65 triliun di tahun 2017 (Bappenas, 2019). Data dari Tirto (2019) mengungkapkan bahkan perkiraan angka kerugian tahunan ini sudah menembus Rp. 100 triliun. Jakarta juga selalu menjadi langganan banjir sejak zaman kolonial (Detik, 2017). Bencana banjir selalu menerpa Jakarta setiap tahun (Sindonews, 2019). Belum lagi dengan masalah kepadatan penduduk dan juga kualitas lingkungan, yang meliputi kualitas air, udara, dan tanah.
Urgensi lain selain Jakarta yang punya banyak masalah, adalah pemindahan ibu kota yang direncanakan di luar Jawa memberi semangat pemerataan pembangunan. Salah satu fakta pembangunan di Indonesia yakni memang masih harus ditingkatkan yaitu dalam hal pemerataan pembangunan yang dibuktikan dari angka pertumbuhan ekonomi selama dua dekade terakhir yang masih terpusat di pulau Jawa dengan persentase 58% terhadap total Produk Domestik Bruto (Sindonews, 2018).
Sudah lebih dari cukup menjadi alasan kenapa ibu kota memang sebaiknya pindah. Masyarakat tidak perlu banyak khawatir akan dampak pemindahan ibu kota. Niat baik untuk memajukan bangsa ini melalui ibu kota baru harus didukung dan diapresiasi. Langkah ini juga pernah diambil oleh negara sebelumnya yakni dengan pindah ke Yogyakarta dan Bukittinggi. Negara-negara lainnya juga tercatat sukses melakukan pemindahan ibu kota.
Harapan generasi muda seperti penulis sebagai kaum intelektual yakni mahasiswa dan juga sebagai seorang penulis atau blogger, tentang ibu kota baru sebenarnya sederhana saja. Penulis berharap ibu kota baru Indonesia adalah kota yang berkelanjutan. Kota yang berkelanjutan adalah salah satu kunci dan arah pembangunan. Mengadaptasi dari PBB, kota yang bekelanjutan sebagai ibu kota baru yakni adalah kota yang memiliki kualitas baik pada tiga aspek. Ketiga aspek tersebut yakni transportasi, lingkungan, dan sosial yang meliputi seni, literasi, dan pendidikan.
       Pada aspek transportasi, pemerintah perlu membangun transportasi publik yang bersifat mudah diakses dan ramah lingkungan. Penggunaan kendaraan pribadi perlu dimonitoring secara baik. Pemerintah perlu membangun infrastruktur yang ramah untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda untuk membangun budaya menggunakan transportasi publik. Selain itu akses kepada transportasi publik berupa kereta rel listrik/MRT, bis, dan angkot juga perlu diberi perhatian khusus. Penulis juga merasa perlu pengadaan angkot massal untuk mencegah kasus kemacetan yang sekarang melanda banyak kota besar. Penggunaan angkutan umum dapat jadi solusi kemacetan (Sjafruddin, 2013). Transportasi publik juga sebaiknya memiliki rute jelas, sistem yang mudah diakses bahkan kalau bisa daring atau online, serta harga yang terjangkau.
Aspek kedua ibu kota baru yakni lingkungan dan ruang terbuka hijau. Sebagai kota yang berkelanjutan, aspek lingkungan perlu menjadi perhatian pemerintah ketika membangun ibu kota baru. Ibu kota baru diharapkan memiliki banyak ruang terbuka hijau dan juga pembangunan gedung atau bangunan memperhatikan prinsip-prinsip lingkungan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Inggris, lingkungan yang hijau didukung dari tersedianya ruang terbuka hijau yang memadai membuat masyarakat jadi lebih bahagia (Mongabay, 2014).
Harapan ketiga datang dari aspek sosial yang meliputi seni, literasi, dan pendidikan. Kualitas ketiga hal ini di ibu kota baru diharapkan berkualitas dan berkuantitas tinggi. Warga diharapkan bisa mendapat akses seni, literasi, dan pendidikan yang baik dan adil agar bisa punya sumber daya manusia yang berkualitas untuk kepentingan bangsa. Pendidikan juga perlu di beri perhatian khusus. Pendidikan adalah langkah nyata untuk kehidupan yang lebih baik (Republika, 2014).
       Setelah paparan data dan analisis diatas, rencana ibu kota baru atau pemindahan ibu kota negara perlu diapresiasi dan direalisasikan sesuai dengan harapan dan aspirasi anak bangsa. Gagasan yang sudah lama ada ini kini menjadi nyata. Penulis juga mengucapkan terimakasih sebesarnya atas aksi nyata oleh Kementerian PPN Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional untuk mengadakan lomba artikel dan blog yang mewadahi para generasi muda untuk menyuarakan aspirasi dan harapannya terhadap harapan akan ibu kota baru.

Referensi:
https://ekbis.sindonews.com/read/1322611/33/ini-strategi-pemerintah-tingkatkan-pemerataan-pembangunan-1531826637
https://metro.sindonews.com/read/1393782/170/setiap-tahun-jakarta-banjir-pengamat-ini-beberkan-penyebabnya-1554698776

1 comment:

  1. Semoga dengan pemindahan ibukota ke Kalimantan, lahan hijau di Kalimantan masih tetap dapat dijaga dan tidak disalahgunakan nantinya.

    ReplyDelete