Saturday, January 16

7 Years Awaiting
Seorang gadis yang 4 bulan belakangan resmi menginjak usia 17 tahun, usia dimana suatu remaja mulai diwajibkan untuk memiliki KTP, tengah dilanda bahagia. Ditengah rerumputan yang luas hijau menghampar ia membaringkan dirinya dengan kenangan di kelas tadi siang. Dia teringat saat itu pria pujaan hatinya Ali, seperti biasa selalu mendatangi mejanya dengan senyum yang sangat mempesona. Ali, pria yang disukainya benar benar membuatnya tersipu, belakangan ini hampir setiap hari Ali selalu mendatangi mejanya, menanyainya banyak hal, bahkan bertanya hal hal yang sensitive seperti apakah sebelum menikah dia berpacaran atau bertaaruf . Dan karena dia selalu salah tingkah di depan pria pujaan hatinya, dia dengan bodohnya menjawab tidak keduanya. Entah apa yang dipikirkan Ali tentang gadis aneh ini, tetapi Ali sekedar kagum bahwa dia ini gadis yang manis dan juga ceria.
Ratih sungguh bimbang, dia berharap rasa cintanya pada Ali dapat berbalas karena kedekatan mereka berdua. Tapi Ali sendiri hanya sekedar menganggapnya sahabat dan tidak lebih. Terbukti beberapa minggu setelah kejadian manis menurut Ratih, Ali mengutarakan perasaannya kepada Deriana di depan kelas dengan setangkai bunga dan sekotak cokelat di depan semua orang di depan kelas. Ketika itu Ratih yang duduk di bangku paling depan hanya dapat menunduk menahan air mata, ia menabahkan dirinya kemudian pergi ke toilet untuk menumpahkan perasaannya yang tidak bisa ditunjukkan ke orang lain. Ia sangat terpuruk, merana, dan cemburu melihat kedekatan Ali dan Deriana. Deriana memang gadis yang sangat sempurna, dia cantik, kaya, dan berbakat. Ratih sendiri merasa dirinya sangat berlawanan dengan Deriana. Dia merasa jelek, miskin, dan sama sekali tidak berbakat.
Ratih menumpahkan air matanya, dia berkata dalam hatinya “Bodohnya aku, menangis hanya karena hal seperti ini. Harusnya aku menyadari tidak mungkin Ali akan menyukaiku, dasar gadis bodoh” ujarnya dalam hati seraya menghapus air mata dan mencuci mukanya. Tapi perasaan dan hatinya tidak mengikuti perintah logikanya, dia terus saja menangis. Setelah air matanya habis, tampaklah mata nya yang bengkak. Dia segera kembali ke kelas, namun dengan mata yang menunjukkan kesedihan. Ali terkejut melihat perubahan wajah Ratih. Dia menghampiri Ratih di mejanya.
“Ratih, kamu kenapa? Kamu baik-baik aja kan?” ujar Ali
“Aku baik-baik aja kok” ujar Ratih segera menghindar dari Ali dan pergi ke perpustakaan. Ali bingung dengan sikap Ratih, dia menemui sahabatnya Zayn.
“Zayn lihat gak sih, kenapa Ratih itu aneh banget? Dia seperti habis nangis, matanya sembab begitu” ujar Ali
“Ali, oh Ali. Kenapa kau belum sadar juga. Dia memang menangis tadi” ujar Zayn
“Apa? Siapa yang membuat dia menangis, berani sekali” ujar Ali
“Ets tunggu dulu..Apa hubungan kau dengan Ratih?” ujar Zayn
Ali bingung menjawabnya, kenapa dia jadi perhatian banget dengan Ratih, sedangkan dia itu pacarnya Deriana.
“Ali, aku kasih tau ya. Kau ini benar-benar nggak peka dengan perasaan perempuan. Ratih itu sangat menyukai kau, masih belum sadar juga. Gimana dia nggak nangis, orang yang dia suka nembak cewek lain dengan gaya sangat romantic di depan matanya sendiri” ujar Zayn
Ali terdiam dan merasa bersalah kepada Ratih. Entah kenapa dia mulai memikirkan perasaan Ratih, dia tampaknya baru menyadari kalau Ratih itu menyukainya.
Ratih mulai bersikap tidak seramah dulu terhadap Ali. Dia menganggap hubungannya dengan Ali telah putus, meski mereka hanya memiliki hubungan pertemanan biasa. Semenjak Ali berpacaran dengan Deriana, dia berfikir Ali sungguh tidak tahu malu. Dia bingung dengan posisinya sendiri, siapa pacarnya siapa. Ali sekarang statusnya pacar Deriana, tapi masih saja menggoda Ratih. Sebenarnya ini bukan salah Ali sepenuhnya, Ali menganggap Ratih temannya, tapi tidak ada kata teman untuk Ali di kamus Ratih. Dia hanya berharap agar hubungannya dengan Ali bukan hubungan pertemanan, tapi harapannya yaitu sebuah hubungan romantis.
Ali sendiri bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Ratih. Ratih berubah 180 derajat menjadi orang yang sangat dingin. Ali mengkaitkan hal ini dengan hubungannya dengan Deriana. Nampaknya Ali baru menyadari kalau selama ini dia juga punya perasaan terhadap Ratih. Dia berusaha dekat lagi dengan Ratih, bahkan dia telah memutuskan hubungannya dengan Deriana. Ratih tidak semudah itu untuk didekati, dia merasa tidak pantas berada di dekat Ali.
Sudah 2 tahun berlalu, Ratih dan Ali tidak pernah saling menyapa. Mereka bahkan seperti tidak saling pernah mengenal, begitu asing. Padahal meski Ali sudah putus hubungan dengan Deriana. Ratih sangat terluka dengan keadaan mereka sekarang yang seperti tidak saling mengenal. Ratih masih mencintai Ali, dan perasaan itu tidak berubah sama sekali sejak mereka pertama kali bertemu.
Ratih dan Ali berada di kelas 3 SMA sekarang, mereka sebentar lagi akan berpisah selamanya, dalam pikiran Ratih. Ratih sangat menyesal, dia ingin seperti dulu lagi, tapi itu sangat tidak mungkin dan hanya akan melukai harga dirinya. Ratih sangat tidak percaya diri, dia selalu merasa Ali memang tidak punya perasaan apapun padanya, cinta Ratih tidak berbalas. Waktu memisahkan mereka berdua. 
Sejak tamat SMA Ratih berusaha memperbaiki dirinya, dia mengikuti banyak organisasi, banyak seminar dan pelatihan dia berusaha yang terbaik agar bisa menjadi seperti Deriana yang cantik, kaya, dan berbakat. Kini dia kuliah sambil bekerja. Dia bekerja sangat keras untuk dapat terus menyambung hidup dan membayar cicilan rumah serta biaya kuliah dan biaya hidup keluarganya. Ratih merupakan putri sulung dari keluarga dengan ekonomi lemah yang tinggal menumpang di rumah seorang kerabat yang kejam.
5 tahun sudah berlalu, usianya sekarang 22 tahun, dia telah lulus kuliah dengan predikat cum laude. Sebuah prestasi yang membanggakan, meski dia kuliah sambil bekerja, tetap saja dia menjadi lulusan terbaik di Universitasnya. Di lain pihak Ali sangat sukses juga sekarang, dia baru saja pulang dari Manchester menamatkan gelar sarjana ekonominya. Dia sekarang telah memiliki segalanya, kecuali gadisnya. Dia ingin melihat bagaimana kondisi gadisnya sekarang. Ali benar-benar pria yang sangat kuat, ia entah kenapa mampu menahan perasaannya pada gadisnya selama bertahun-tahun. Sekarang dia merasa waktunya sudah tepat.
Pada hari minggu, seorang gadis yang sangat cantik dan juga terpelajar keluar dari mobil mewah Porsche yang berwarna putih. Gadis itu benar benar sangat berbeda, dia sangat sukses sekali. Gadis itu adalah Ratih Kanwari. Dia sekarang menjadi orang nomor satu di perusahaan teknologi ternama di Indonesia. Ratih selalu mengunjungi perpustakaan, barang kali 2 minggu sekali atau tiap minggu. Perpustakaan ini merupakan saksi betapa kerasnya dia berjuang meraih mimpinya, sekaligus saksi dari yang dia dulu bukan siapa-siapa menjadi dia yang menakjubkan seperti sekarang. Hobi Ratih memang membaca. Membaca adalah caranya menghibur diri terhadap kesepian dan kedukaan hidupnya serta keperihan cinta pertamanya.
Ali yang tahu kebiasaan Ratih, ikut mengunjungi perpustakaan. Ali sangat bahagia melihat kondisi Ratih sekarang. Dia sangat cantik, kaya, dan sukses sekarang. Dia sangat berbeda dengan Ratih pada masa SMA. Untuk pertama kalinya setelah 7 tahun Ali kembali menyapa Ratih.
“Assalamualaikum Ratih?” ujar Ali
Ratih terkesiap, dunia novel yang sedang dibacanya terputus dan dia kembali ke dunia nyata. Dia baru saja mendengar suara yang sangat dikenali dan dirindukannya selama 7 tahun ini, tiba-tiba datang dari arah sampingnya. Dia bertanya dalam hati “ Apakah aku sedang berhalusinasi ?” Dia segera menoleh ke arah Ali. Dia terkejut dan kaget namun tetap berusaha menyembunyikan rasa bahagia nya.
“Wa.. alaikum salam” ujar Ratih singkat
Ratih seperti biasa berusaha mengendalikan diri alias jaim. Dia sangat senang dan bahagia, wajah yang 7 tahun dinantikan dan dirindukannya kembali hadir dalam hidupnya. Namun ingatannya kembali saat masa SMA, yaitu ketika Ali memberikan setangkai bunga dan sekotak cokelat pada Deriana di depan kelas dan di depan semua orang dengan kata-kata yang romantic. Dia kembali kecewa dengan apa yang terjadi di masa 7 tahun yang lalu.
“Apa kabar?” ujar Ali
Ali tampak sedikit kecewa karena dia merasa Ratih tidak berubah sejak SMA. Ratih masih dingin terhadapnya.
“Alhamdulillah baik, maaf Ali, aku ada urusan mendadak dan baru di sms tadi, aku duluan ya” ujar Ratih berbohong karena dia benar-benar nervous.
Tak disangka, Ali segera menangkap tangan Ratih yang saat itu sudah mulai meninggalkan kursinya
“Aku minta maaf Ratih, kita perlu bicara berdua sekarang. Kau berbohong kalau kau ada urusan mendadak kan?” ujar Ali masih memegang tangan Ratih
Mereka berdua menjadi sorotan para pengunjung perpustakaan yang lainnya.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku. Kau benar-benar membuatku malu” ujar Ratih sambil melepaskan genggaman tangan Ali, dia segera pergi sambil berlinangan air mata.
Ali segera mengejarnya.
“Ratih, ada apa denganmu, aku menyukaimu Ratih. Aku mencintaimu, aku sudah tahu dari Kalia kalau kau menyukai aku, Deriana juga memberitahuku” ujar Ali
Ratih sangat absurd sekarang, dia bingung harus bersikap bagaimana. Dia benci pada Ali yang tidak pernah menghargai perasaannya, dan baru membalasnya sekarang. Memangnya dia pikir dia siapa, membuat orang jatuh hati, tapi menimbang perasaannya selama 7 tahun.
“Kenapa baru sekarang kau mengatakannya, kau kemana saja selama 7 tahun ini, aku sangat lelah dengan 7 tahun ini berusaha meyakinkan diriku bahwa kau tidak pernah menyukaiku. Tapi kenapa kau muncul lagi sambil bilang kau menyukaiku, kau sama sekali tidak menghargai perasaanku 7 tahun yang lalu, dimana aku terombang ambing menyukaimu tapi memikirkan apakah sebenarnya kau punya perasaan yang sama dengan ku atau tidak. Kumohon pergi dari hidupku sejauh-jauhnya. Aku sangat membenci orang yang membuatku menderita dengan perasaanku sendiri” ujar Ratih panjang lebar sambil berlinangan air mata.
Ali terkesiap, dia tidak menyangka akan jadi begini.
“Maafkan aku, Ratih. Aku tidak punya cukup keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, aku sungguh minta maaf karena hal ini membuatmu menderita” ujar Ali
“Permintaan maaf sudah diterima, aku mohon padamu jangan pernah sekalipun menemui aku. Kita tidak memiliki hubungan apapun dan selamanya akan tetap begitu” ujar Ratih menentang perasaannya sendiri
Ratih segera naik ke mobil porsche putih miliknya, dan pergi meninggalkan Ali yang begitu shock. Di mobilnya, Ratih menangis sejadi-jadinya, dia bahagia dan terluka. Dia bahagia karena ternyata selama ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, namun dia terluka dengan sikap pengecut Ali yang baru muncul setelah 7 tahun. Dia merasa Ali malu mengakui kalau dia menyukai gadis jelek seperti Ratih. Ratih berlalu dengan mobilnya, berusaha menegarkan dirinya kembali.