Sunday, August 18


Kemarin adalah hari kemerdekaan RI yang ke-74 tahun. Dan, di usia sematang ini pertanyaan yang sering kita lihat di media sosial muncul kembali.  Pertanyaan ‘’Apa kita benar-benar sudah merdeka?’. Jawabannya, belum. Kita masih belum merdeka saudara-saudara semua. Banyak dari kita yang laptopnya masih seberat karung beras. Kita belum merdeka dari laptop berat yang bikin hidup menderita. Ayo, mulai detik ini kita pindah ke laptop Asus seri yang paling baru dan kece, dan pastinya nggak berat yakni Vivobook Ultra A412DA. Laptop ini bahkan diklaim sebagai The World’s Smallest 14 inch Colorful Notebook.

Sebagai seorang generasi muda nasionalis, saya menghabiskan waktu bekerja keras, supaya bisa jadi manusia yang berkualitas. Sehingga, harapannya, bangsa ini bisa jadi lebih maju. Saya yakin negara ini tidak maju-maju bukan karena jumlah orang pintar sedikit, namun jumlah orang yang berkarakter jujur dan anti korupsi serta pintar masih sedikit. Maka dari itu, ayo kita mulai saat ini mengisi kemerdekaan, tidak hanya menjadi orang yang cerdas, tapi juga berkarakter. Lalu, apa hubungannya Vivobook Ultra dengan kemerdekaan. Nah, hubungannya yakni, laptop ini bisa menemani kita untuk mengisi kemerdekaan, dan pastinya merdeka dari laptop berat yang bikin hidup kita menderita.
Asus sebagai brand laptop terkemuka di dunia, kembali menghasilkan inovasi produk terbaru yang amat kece, dan berguna untuk masyarakat, yakni Vivobook Ultra ini. Laptop ini paling ringkas di kelasnya. Tipe Vivobook ini juga sudah diperkuat prosesor terbaru AMD Ryzen 3000 series, baik Ryzen 3 ataupun Ryzen 5.
Tau bahwa masyarakat kita masih banyak yang khilaf dengan membajak windows, Asus melalui laptop Vivobook Ultra A412DA ini sudah pre-install Windows 10 asli. Jadi, stop beli bajakan.
Selain itu, ada fitur sensor fingerprint dan juga Windows Hello yang revolusioner dan high security juga dari laptop Vivobook Ultra A412DA. Unik abis sih ini.
Laptop Vivobook Ultra A412DA ini beratnya juga cuma 1.5 kg loh. Ringan abis yak. Kalo di bawa pas traveling mantap jiwa. Bisa dibawa kemana aja, ke kampus oke, ke event kegiatan oke, ketemu klien juga oke. Selain ringan, ada banyak juga varian warna yang keren-keren. Kalo saya naksir banget sama yang warna merah. Biar penuh semangat gitu kalo pas kerja.

Untuk mengisi kemerdekaan, perlu banget ya bagi saya sebagai seorang mahasiswa, guru les, dan juga blogger untuk stay productive. Nah laptop Vivobook Ultra A412DA ini bisa keep us productive. Laptop Vivobook Ultra A412DA ini dibekali dengan baterai litium polimer berkualitas tinggi untuk kebutuhan kita, bahkan Asus juga punya teknologi Battery Health Charging Technology  yang bisa buat laptop aman dari overcharge. Baterai jadi awet deh. Kece deh. Tidak hanya itu teman-teman, bahkan ada fitur fast charging juga, sehingga baterai bisa terisi 60% hanya dalam jangka waktu kurang dari sejam.

Udah ngomongin keunggulan baterai, rasanya ngga bisa berhenti nulisin kelebihan laptop Vivobook Ultra A412DA ini. Sekarang lanjut ke keunggulan desain laptop ini. Laptop Vivobook Ultra A412DA ini cantik. Laptop ini punya desain NanoEdge Display. Layarnya luas dan lega banget untuk kerja dan juga main.

Puas ngomongin fitur baterai, desain, yuk kita lihat dapur pacunya juga. Laptop jaman sekarang harus bisa dong, multitasking, dan pastinya harus anti lelet. Laptop Vivobook Ultra A412DA ini didukung oleh Prosesor AMD Ryzen, sehingga pastinya bisa kerja, multimedia editing, bahkan main game.
Laptop Vivobook Ultra A412DA ini laptop yang sempurna buat kita-kita mengisi kemerdekaan dengan menjadi produktive belajar dan juga bekerja menuju Indonesia Unggul. Bahkan ikut lomba kaya gini juga termasuk cara saya untuk memaksakan diri untuk menulis, walau saya tahu diri saya masih harus banyak belajar untuk menghasilkan tulisan yang berfaedah dan berkualitas.
Ayo kawan-kawan kita semangat terus, dan pastinya ayo kita pakai laptop Vivobook Ultra A412DA.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Asus periode Agustus 2019.



Monday, August 5

Rencana pemerintah untuk memindahkan ibu kota baru mendatangkan cahaya harapan kemajuan bangsa. Wacana yang sudah bergulir lama akhirnya menuju konkret dan nyata. Harapan penulis, semoga dapat mewakili generasi muda lainnya, yakni, ibu kota baru Indonesia semoga menjadi kota yang berkelanjutan.
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mendefinisikan kota yang berkelanjutan sebagai kota yang menciptakan kesempatan karir dan bisnis, perumahan yang aman dan terjangkau, dan pembangunan masyarakat dan ekonomi yang tangguh. Kota yang berkelanjutan juga tidak dapat dipisahkan dari investasi pada transportasi publik, ruang terbuka hijau, dan peningkatan tata kota dan manajemen (UNDP).
Untuk memindahkan ibu kota dan memiliki ibu kota baru, sangat penting untuk diketahui mengenai urgensinya, kenapa harus pindah? Ibu kota Indonesia yang sekarang, Jakarta, punya segudang permasalahan yang bukannya membuat Indonesia tambah maju, justru membuat Indonesia tetap stagnant di tempat dan menjadi persoalan lama yang belum juga ditemukan solusinya. Sudah saatnya, bangsa ini bangkit dan atur strategi baru dalam memajukan Indonesia yakni dengan mencari ibu kota baru. Ibu kota baru adalah harapan baru arah pembangunan bangsa. Sebelum kita bergerak lebih jauh, ada baiknya kita lihat data dan fakta Jakarta terkini sebagai pijakan kenapa perlu adanya ibu kota baru.
Kemacetan Jakarta menempati peringkat ke-7 sedunia, dengan angka tingkat kemacetan sebesar 53% (The TomTom Traffic Index, 2018). Perkiraan kerugian tahunan akibat kemacetan ini juga punya angka yang fantastis yakni menembus Rp. 65 triliun di tahun 2017 (Bappenas, 2019). Data dari Tirto (2019) mengungkapkan bahkan perkiraan angka kerugian tahunan ini sudah menembus Rp. 100 triliun. Jakarta juga selalu menjadi langganan banjir sejak zaman kolonial (Detik, 2017). Bencana banjir selalu menerpa Jakarta setiap tahun (Sindonews, 2019). Belum lagi dengan masalah kepadatan penduduk dan juga kualitas lingkungan, yang meliputi kualitas air, udara, dan tanah.
Urgensi lain selain Jakarta yang punya banyak masalah, adalah pemindahan ibu kota yang direncanakan di luar Jawa memberi semangat pemerataan pembangunan. Salah satu fakta pembangunan di Indonesia yakni memang masih harus ditingkatkan yaitu dalam hal pemerataan pembangunan yang dibuktikan dari angka pertumbuhan ekonomi selama dua dekade terakhir yang masih terpusat di pulau Jawa dengan persentase 58% terhadap total Produk Domestik Bruto (Sindonews, 2018).
Sudah lebih dari cukup menjadi alasan kenapa ibu kota memang sebaiknya pindah. Masyarakat tidak perlu banyak khawatir akan dampak pemindahan ibu kota. Niat baik untuk memajukan bangsa ini melalui ibu kota baru harus didukung dan diapresiasi. Langkah ini juga pernah diambil oleh negara sebelumnya yakni dengan pindah ke Yogyakarta dan Bukittinggi. Negara-negara lainnya juga tercatat sukses melakukan pemindahan ibu kota.
Harapan generasi muda seperti penulis sebagai kaum intelektual yakni mahasiswa dan juga sebagai seorang penulis atau blogger, tentang ibu kota baru sebenarnya sederhana saja. Penulis berharap ibu kota baru Indonesia adalah kota yang berkelanjutan. Kota yang berkelanjutan adalah salah satu kunci dan arah pembangunan. Mengadaptasi dari PBB, kota yang bekelanjutan sebagai ibu kota baru yakni adalah kota yang memiliki kualitas baik pada tiga aspek. Ketiga aspek tersebut yakni transportasi, lingkungan, dan sosial yang meliputi seni, literasi, dan pendidikan.
       Pada aspek transportasi, pemerintah perlu membangun transportasi publik yang bersifat mudah diakses dan ramah lingkungan. Penggunaan kendaraan pribadi perlu dimonitoring secara baik. Pemerintah perlu membangun infrastruktur yang ramah untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda untuk membangun budaya menggunakan transportasi publik. Selain itu akses kepada transportasi publik berupa kereta rel listrik/MRT, bis, dan angkot juga perlu diberi perhatian khusus. Penulis juga merasa perlu pengadaan angkot massal untuk mencegah kasus kemacetan yang sekarang melanda banyak kota besar. Penggunaan angkutan umum dapat jadi solusi kemacetan (Sjafruddin, 2013). Transportasi publik juga sebaiknya memiliki rute jelas, sistem yang mudah diakses bahkan kalau bisa daring atau online, serta harga yang terjangkau.
Aspek kedua ibu kota baru yakni lingkungan dan ruang terbuka hijau. Sebagai kota yang berkelanjutan, aspek lingkungan perlu menjadi perhatian pemerintah ketika membangun ibu kota baru. Ibu kota baru diharapkan memiliki banyak ruang terbuka hijau dan juga pembangunan gedung atau bangunan memperhatikan prinsip-prinsip lingkungan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Inggris, lingkungan yang hijau didukung dari tersedianya ruang terbuka hijau yang memadai membuat masyarakat jadi lebih bahagia (Mongabay, 2014).
Harapan ketiga datang dari aspek sosial yang meliputi seni, literasi, dan pendidikan. Kualitas ketiga hal ini di ibu kota baru diharapkan berkualitas dan berkuantitas tinggi. Warga diharapkan bisa mendapat akses seni, literasi, dan pendidikan yang baik dan adil agar bisa punya sumber daya manusia yang berkualitas untuk kepentingan bangsa. Pendidikan juga perlu di beri perhatian khusus. Pendidikan adalah langkah nyata untuk kehidupan yang lebih baik (Republika, 2014).
       Setelah paparan data dan analisis diatas, rencana ibu kota baru atau pemindahan ibu kota negara perlu diapresiasi dan direalisasikan sesuai dengan harapan dan aspirasi anak bangsa. Gagasan yang sudah lama ada ini kini menjadi nyata. Penulis juga mengucapkan terimakasih sebesarnya atas aksi nyata oleh Kementerian PPN Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional untuk mengadakan lomba artikel dan blog yang mewadahi para generasi muda untuk menyuarakan aspirasi dan harapannya terhadap harapan akan ibu kota baru.

Referensi:
https://ekbis.sindonews.com/read/1322611/33/ini-strategi-pemerintah-tingkatkan-pemerataan-pembangunan-1531826637
https://metro.sindonews.com/read/1393782/170/setiap-tahun-jakarta-banjir-pengamat-ini-beberkan-penyebabnya-1554698776